Tangki IPAL BIO (WTTP)

Pabrikasi waste water treatment plant (WTTP) yang merupakan tangki IPAL Bersertifikat sesuai standar baku mutu dari Dinas

Standardization of Aplication Method

Perusahaan kami menerapkan standarisasi produk mulai dari pembuatan dan perakitan, sehingga keandalan mutu dan kualitas terjamin

Water Roof Tank Fiberglass

Tangki air extra capasity (water panel) kualitas terbaik dari kami life time service sehingga mampu diandalkan untuk mensuplai kebutuhan air Anda

Tangki IPAL bio integrated system

Tangki IPAL (STP) dengan teknologi biofilter mampu menstabilkan air limbah bekas rumah tangga dan industri menjadi air yang ramah lingkungan

Kursi Multi Fungsi Fiberglass

Kami memprodsi meja dan kursi untuk segala kebutuhan (indor dan outdor) kuat dan tahan panas di bawah terik matahari sekalipun

Tampilkan postingan dengan label Tangki IPAL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tangki IPAL. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Agustus 2021

Tangki IPAL Biosystem

Tangki IPAL Biosystem

Tangki IPAL Biosystem adalah Intalasi pengelolahan air limbah atau alat pengelolah limbah cair ramah lingkungan sehingga air buangan sudah layak buang ke selokan dengan aman tanpa mencemari air dan tanah.

Harga per kubikasi adalah :  Rp.5.500.000 / m3

Spesifikasi :

Body : Fibreglass (FRP)

Media Filter : Bioball PE Plastik & Honeycomb

Pipa Inlet, Outlet, Cleaning Tube, Tabung disinfectan & ventilasi : Rucika Standart/Eq

Tebal : 08-12mm (avg)



Kelengkapan Asesoris :

1.Blower Aeration,

2.Pump sirculation/sludge pump

3.Panel Listrik 0n|off semi auto

4.Dffuser Coarse buble


Aplikasikan :

1. Rumah Sakit

2. Rumah Tinggal (Apartemen)

3. Ruko & Perkantoran

4. Gedung bertingkat, dll


HARGA DI ATAS KHUSUS UNTUK JABODETABEK.

(KAMI KIRIM VIA KURIR PRIBADI - kurir tokopedia untuk invoice)

untuk pengiriman diluar Jakarta bisa info ke kami dulu ya...


PENGIRIMAN LUAR PULAU DIKENAKAN BIAYA ONGKOS TAMBAHAN (sesuai berat, kubikasi & jaraknya)


Untuk Info dan pengiriman Produk

Chat langsung lewat WA di:

https://wa.me/6287836548677


Produk kami selengkapnya :

Kunjungi segera web kami di:

https://royalciptaabadiutama.com/


#tangkiipal

#ipal

#stp

#ipalmedis

#tangkifiberglass

Baca juga artikel kami yang lain:

Pengolahan IPAL industri

Tangki Air Silinder (water roof tank)



Share:

Senin, 02 Agustus 2021

Pengolahan IPAL Industri

 IPAL Industri

Sahabat royal, limbah cair dari industri khususnya isndustri makanan merupakan salah satu penghasil limbah yang jika tidak diolah ditangani dengan baik dapat menyebabkan pencemaran lingkungan. Dalam jangka panjang pencemaran lingkungan akan mencemari lingkungan dikarenakan limbah ini terdiri dari senyawa-senyawa organik yang relatif mudah terdegradasi oleh mikroorganisme.

Senyawa organik tersebut harus dikurangi atau dihilangkan terlebih dahulu sebelum diterima oleh badan air (sungai, danau dan sebagainya). Hal ini disebabkan karena lingkungan penerima limbah cair organik ini pada umumnya sudah tidak mempunyai daya dukung yang memadai untuk menerima beban pencemaran tersebut.


Secara umum, kondisi bahan pencemar dapat digolongkan atau diklasifikasikan sebagai berikut :

1. Senyawa-senyawa organik terlarut

Senyawa ini dapat menyebabkan berkurangnya kadar oksigen terlarut di dalam badan air. Hal ini akan membahayakan kehidupan biota di perairan. Di samping itu dalam suasana anaerob akan menimbulkan bau yang tidak menyenangkan (bau busuk).

2. Padatan tersuspensi

Bahan ini merupakan senyawa organik yang tidak larut dalam air. Bahan ini juga relatif mudah terdekomposisi sehingga menyebabkan berkurang atau habisnya oksigen terlarut di dalam air yang pada gilirannya akan mengganggu kehidupan hewan dan tumbuh-tumbuhan air.

3. Warna dan kekeruhan

Warna dan kekeruhan ini akan menyebabkan masalah estetika

4. Nitrogen dan fosfor

Adanya senyawa nitrogen dan fosfor di dalam limbah cair yang dibuang langsung ke dalam badan air, akan menimbulkan proses eutrofikasi dan pertumbuhan algae yang tidak terkontrol.

5. Minyak

Pembuangan limbah cair yang mengandung minyak akan memperbesar kandungan bahan organik di dalam limbah cair tersebut.


Cara Pengolahan Limbah Restoran

Pengolahan Primer

Beberapa proses pengolahan primer yang biasa digunakan untuk mengolah limbah cair adalah :

Equalisasi

Proses ini dimaksudkan untuk mengontrol karakteristik limbah cair agar supaya fluktuasi kualitasnya dapat dikurangi. Proses ini sangat diperlukan apabila limbah cair akan mengalami proses pengolahan berikutnya. Equalisasi dilakukan dalam suatu bak yang ukuran dan jenis baknya sangat bervariasi. Hal ini tergantung pada jumlah limbah cair yang diolah dan variabilitas aliran air limbah cair. Bak equalisasi yang digunakan harus dapat menampung keseluruhan jadwal proses dari suatu kegiatan produksi yang mungkin bervariasi dari segi debit limbah cair yang dihasilkan.

Bak equalisasi ini dappat pula dipakai sebagai tempat pengkondisian limbah cair sebelum mengalami proses pengolahan berikutnya. Secara sistematis, tujuan dilakukan proses di dalam bak equalisasi adalah sebagi berikut :

1. Untuk menjaga terjadinya umpan kejutan (shock loading) pada system proses biologi

2. Untuk mengontrol pH

3. Unntuk menjaga agar aliran limbah cair yang diolah pada siistem biologi dapat mengalir secara kontinyu, khususnya apabila keggiatan produksi sedang diberhentikan.

4. Untuk mencegah konsentrasi tinggi dari bahan-bahan toxic yang mungkin dihasilkan dari kegiatan produksi sebelum masuk ke sistem pengolahan biologi.

Bak equalisasi biasanya memerlukan mixer untuk menjamin homogenitas limbah cair. Tambahan pula, mixer ini juga membantu terjadinya proses transfer oksigen dari udara ke dalam limbah cair yang pada gilirannya akan mengurangi kadar BOD di dalam limbah.

Netralisasi

Beberapa limbah cair industri makanan bersifat asam atau alkali. Kondisi ini memerlukan langkah-langkah netralisasi sebelum limbah cair itu diijinkan untuk dibuangke badan air atau dimasukkan ke dalam sistem pengolahan berikutnya, baik secara biologi maupun kimia.

Sedimentasi

Proses pengendapan ini bertujuan untuk menghilangkan atau memisahkan padatan tersuspensi dari limbah cair.

Pemisah minyak (grease trap)

Pemisahan minyak ini menggunakan sebuah tangki grease trap. Di dalam tangki ini, minyak akan bebas mengambang dipermukaan dan membentuk sebuah lapisan yang dapat diambil atau dipisahkan.

Pengolahan Sekunder

Pada umumnya proses pengolahan sekunder terdiri dari proses aerobik dan anaerobik, digunakan untuk mendegradasi senyawa-senyawa organik yang terlarut di dalam limbah cair. Proses pengolahan ini menggunakan mikrooganisme untuk mendegradasi bahan organik yang terkandung di dalam limbah cair. Mikroorganisme yang digunakan pada umumnya diambil dari sistem yang sudah berjalan, dan dapat diambil dari keluaran sistem maupun dari lumpur yang terjadi. Di dalam prakteknya, mikrooorganisme awal yang biasa disebut sebagai starter, terlebih dahulu harus dilakukan aklimatisasi untuk mengkondisikan kebiasaan hidupnya dengan lingkungan yang baru.

Proses Aerobik

Proses aerasi bertujuan untuk memindahkan oksigen, baik oksigen murni maupun udara, ke dalam proses pengolahan biologis. Aerasi dapat juga digunakan untuk ”mengusir” senyawa yang mudah dari sejumlah limbah cair. Aerasi merupakan proses perpindahan (transfer) massa antara gas (oksigen) dan cairan. Transfer oksigen ke dalam limbah cair dipengaruhi oleh variabel fisik dan kimia, antara lain :

– Temperature

– Pencampuran secara turbulen

– Kedalaman limbah cair

– Karakteristik limbah cair

Beberapa peralatan aerasi yang umum digunakan pada skala industri saat ini adalah unitair diffusion; yaitu sistem aerasi turbin dimana udara dilepaskan dari bawah baling-baling yang berputar dan dari unit aerasi permukaan dimana akan terjadi perpindahan oksigen yang memungkinkan terjadinya turbulensi yang tinggi dari permukaan limbah cair.

Proses Anaerobik

Dekomposisi bahan organik di dalam limbah cair akan menghasilkan gas metana dan karbondioksida. Proses dekomposisi ini berjalan tanpa adanya oksigen. Walaupun secara kinetika dan keseimbangan bahan sangat mirip dengan proses aerobik, tetapi beberapa syarat dasar perlu mendapatkan perhatian dalam merancang unit anaerobik ini.

Pada proses ini konversi dari asam-asam organik yang akan membentuk gas metana menghasilkan energi yang rendah. Akibat dari hal tersebut maka hasil pertumbuhan mikroorganisme dan kecepatan degradasinya juga rendah. Konversi bahan organik menjadi gas baik metana maupun karbondioksida dapat mencapai kisaran antara 80 – 90%. Untuk mencapai efisiensi yang tinggi, diperlukan kenaikan temperatur. Tetapi hal ini perlu diperhitungkan dengan matang, mengingat bahwa kenaikan temperatur ini akan menambah biaya operasional dari penanganan limbah cair.

Keuntungan dari proses ini adalah dihasilkannya gas metana yang merupakan bahan bakar yang dapat digunakan sebagi sumber panas. Selain itu, keuntungan lain adalah bahwa proses ini mampu untuk mendegradasi bahan organik yang tinggi di dalam limbah cair. Kandungan bahan organik yang rendah tidak efisien untuk diolah secara anaerobik.

Baca juga artikel:

Tangki IPAL Biosystem

Karakteristik air limbah

Share:

Selasa, 08 Juni 2021

Karakreristik Air Limbah

Cara Pengolahan Limbah Secara Sederhana

Air limbah atau air buangan adalah sisa air yang dibuang dari rumah tangga, industri maupun tempat-tempat umum lainnya yang umumnya mengandung bahan-bahan atau zat-zat yang dapat membahayakan bagi kesehatan manusia serta menggangu lingkungan hidup.

Batasan lain mengatakan bahwa air limbah adalah kombinasi dari cairan dan sampah cair yang berasal dari daerah pemukiman, perdagangan, perkantoran, dan industri, bersama-sama dengan air tanah, air permukaan, dan air hujan yang mungkin ada (Haryoto Kusnoputranto, 1985).

Baca juga: Pengolahan Limbah dengan Tangki IPAL BIOSYSTEM Ramah Lingkungan

Limbah, sampah, dan kotoran yang berasal dari rumah tangga, perusahaan, dan/atau kendaraan merupakan masalah serius yang perlu diperhatikan untuk menciptakan kesehatan lingkungan. Pembuangan sampah rumah tangga dibiasakan pada tempat sampah, karena itu tempat sampah seharusnya selalu tersedia di lingkungan rumah tempat tinggal sesuai dengan jenisnya, sampah basah (garbage), sampah kering (rubbish), dan sisa-sisa industri (industrial waste).

Selain itu, kebiasaan meludah, buang air kecil dan besar (human excreta), air limbah (sewage) juga harus dikelola dengan baik agar tidak mengganggu kesehatan lingkungan. Sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat menjadi sarang hewan penyebar penyakit dan bau yang tidak sedap.

Meskipun merupakan air sisa namun volumenya besar karena lebih kurang 80% dari air yang digunakan bagi kegiatan-kegiatan manusia sehari-hari tersebut dibuang lagi dalam bentuk yang sudah kotor (tercemar). Selanjutnya air limbah ini akhirnya akan mengalir ke sungai dan laut dan akan digunakan oleh manusia lagi.

Oleh sebab itu, air buangan ini harus dikelola dan atau  diolah secara baik. Air limbah ini berasal dari berbagai sumber, secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi sebagai berikut :

Air buangan yang bersumber dari rumah tangga (domestic wastes water), yaitu air limbah yang berasal dari pemukiman penduduk. Pada umumnya air limbah ini terdiri dari ekskreta (tinja dan air seni), air bekas cucian dapur dan kamar mandi, dan umumnya terdiri dari bahan-bahan organik.

Air buangan industri (industrial wastes water) yang berasal dari berbagai jenis industri akibat proses produksi. Zat-zat yang terkandung didalamnya sangat bervariasi sesuai dengan bahan baku yang dipakai oleh masing-masing industri antara lain: nitrogen, sulfida, amoniak, lemak, garam-garam, zat pewarna, mineral, logam berat, zat pelarut, dan sebagainya. Oleh sebab itu pengolahan jenis air limbah ini menjadi lebih rumit karena harus mempertimbangkan dampaknya pada lingkungan.


Air buangan kotapraja (municipal wastes water) yaitu air buangan yang berasal dari daerah perkantoran, perdagangan, hotel, restoran, tempat-tempat umum, tempat ibadah, dan sebagainya. Pada umumnya zat-zat yang terkandung dalam jenis air limbah ini sama dengan air limbah rumah tangga.

Karakteristik Air Limbah

Karakteristik air limbah perlu dikenal karena hal ini akan menentukan cara pengolahan yang tepat sehingga tidak mencemari lingkungan hidup. Secara garis besar karakteristik air limbah ini digolongkan sebagai berikut:

1. Karakteristik fisik

Sebagian besar terdiri dari air dan sebagian kecil terdiri dari bahan-bahan padat dan suspensi. Terutama air limbah rumah tangga, biasanya berwarna suram seperti larutan sabun, sedikit berbau. Kadang-kadang mengandung sisa-sisa kertas, berwarna bekas cucian beras dan sayur, bagian-bagian tinja, dan sebagainya.

2. Karakteristik kimiawi

Biasanya air buangan ini mengandung campuran zat-zat kimia anorganik yang berasal dari air bersih serta bermacam-macam zat organik berasal dari penguraian tinja, urine dan sampah-sampah lainnya. Oleh sebab itu pada umumnya bersifat basa pada waktu masih baru dan cenderung ke asam apabila sudah mulai membusuk.

Substansi organik dalam air buangan terdiri dari 2 gabungan, yakni: 

  • Gabungan yang mengandung nitrogen, misalnya urea, protein, amine dan asam amino.
  • gabungan yang tak mengandung nitrogen, misalnya lemak, sabun dan karbohidrat, termasuk selulosa.

3. Karakteristik bakteriologis

Kandungan bakteri patogen serta organisme golongan coli terdapat juga dalam air limbah tergantung darimana sumbernya namun keduanya tidak berperan dalam proses pengolahan air buangan.

Sesuai dengan zat-zat yang terkandung didalam air limbah, maka air limbah yang tidak diolah terlebih dahulu akan menyebabkan berbagai gangguan kesehatan masyarakat dan lingkungan hidup antara lain :

  • Menjadi transmisi atau media penyebaran berbagai penyakit, terutama kolera, typhus abdominalis, disentri basiler.
  • Menjadi media berkembang-biak mikroorganisme patogen.
  • Menjadi tempat-tempat berkembangbiak nyamuk atau tempat hidup larva nyamuk.
  • Menimbulkan bau yang tidak enak serta pandangan yang tidak sedap.
  • Merupakan sumber pencemaran air permukaan, tanah dan lingkungan hidup lainnya.
  • Mengurangi produktivitas manusia karena orang bekerja dengan tindak nyaman dan sebagainya.
Untuk mencegah atau mengurangi akibat-akibat buruk tersebut di atas diperlukan kondisi, persyaratan, dan upaya-upaya sedemikian rupa sehingga air limbah tersebut:

  • Tidak mengkontaminasi sumber air minum.
  • Tidak mengakibatkan pencemaran permukaan tanah.
  • Tidak menyebabkan pencemaran air untuk mandi, perikanan, air sungai, atau tempat-tempat rekreasi.
  • Tidak dapat dihinggapi serangga dan tikus dan tidak menjadi tempat berkembangbiaknya berbagai bibit penyakit dan vektor.
  • Tidak terbuka kena udara luar (jika tidak diolah) serta tidak dapat dicapai oleh anak-anak.
  • Baunya tidak mengganggu.

Cara pengolahan air limbah secara sederhana :

Pengolahan air limbah untuk melindungi lingkungan hidup dari pencemaran. Secara ilmiah sebenarnya lingkungan mempunyai daya dukung yang cukup besar terhadap gangguan yang timbul karena pencemaran air limbah tersebut. Namun demikian, alam tersebut mempunyai kemampuan yang terbatas dalam daya dukungnya sehingga air limbah perlu diolah sebelum dibuang.

Beberapa cara sederhana pengolahan air buangan antara lain:

1. Pengenceran (Dilution)

Air limbah diencerkan sampai mencapai konsentrasi yang cukup rendah kemudian baru dibuang ke badan-badan air. Tetapi dengan makin bertambahnya penduduk, yang berarti makin meningkatnya kegiatan manusia, maka jumlah air limbah yang harus dibuang terlalu banyak dan diperlukan air pengenceran terlalu banyak pula maka cara ini tidak dapat dipertahankan lagi.

Disamping itu, cara ini menimbulkan kerugian lain, diantaranya bahaya kontaminasi terhadap badan-badan air masih tetap ada, pengendapan yang akhirnya menimbulkan pendangkalan terhadap badan-badan air, seperti selokan, sungai, danau, dan sebagainya. Selanjutnya dapat menimbulkan banjir.

2. Kolam Oksidasi (Oxidation Ponds)

Pada prinsipnya cara pengolahan ini adalah pemanfaatan sinar matahari, ganggang (algae), bakteri dan oksigen dalam proses pembersihan alamiah. Air limbah dialirkan ke dalam kolam besar berbentuk segi empat dengan kedalaman antara 1-2 meter. Dinding dan dasar kolam tidak perlu diberi lapisan apapun. Lokasi kolam harus jauh dari daerah pemukiman dan di daerah yang terbuka sehingga memungkinkan sirkulasi angin dengan baik.

Cara kerjanya antara lain sebagai berikut :

Empat unsur yang berperan dalam proses pembersihan alamiah ini adalah sinar matahari, ganggang, bakteri, dan oksigen. Ganggang dengan butir khlorophylnya dalam air limbah melakukan proses fotosintesis dengan bantuan sinar matahari sehingga tumbuh dengan subur

pada proses sintesis untuk pembentukan karbohidrat dari H2O dan CO2 oleh chlorophyl dibawah pengaruh sinar matahari terbentuk O2 (oksigen). Kemudian oksigen ini digunakan oleh bakteri aerobik untuk melakukan dekomposisi zat-zat organik yang terdapat dalam air buangan. Disamping itu terjadi pengendapan

Sebagai hasilnya nilai BOD dari air limbah tersebut akan berkurang sehingga relatif aman bila akan dibuang ke dalam badan-badan air (kali, danau, dan sebagainya).

3. Irigasi

Air limbah dialirkan ke dalam parit-parit terbuka yang digali sehingga air akan merembes masuk ke dalam tanah melalui dasar dan dinding parit-parit tersebut. Dalam keadaan tertentu air buangan dapat digunakan untuk pengairan ladang pertanian atau perkebunan dan sekaligus berfungsi untuk pemupukan.

Cara ini dapat digunakan terutama untuk air limbah rumah tangga, perusahaan susu sapi, rumah potong hewan, dan sebagainya dimana kandungan zat-zat organik dan protein yang diperlukan oleh tanaman cukup tinggi.

Diambil dari berbagai sumber

Artikel lain:

Tangki IPAL Bulat (perbedaan dan fungsinya)

Limbah Yang Wajib di Olah

Share:

Selasa, 20 April 2021

Pengolahan Limbah Yang Efektif

Pengolahan Limbah Yang Efektif

RCAU Fiberglass - Pengelolaan air limbah di Indonesia mayoritas masih menggunakan septic tank yang berada di rumah atau bangunan (on site), terlebih di perdesaan masih terdapat masyarakat yang masih buang air besar di kebun, badan air, dan sungai.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) terus mendorong pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan pengelolaan air limbah baik terpusat skala besar maupun komunal yang bisa digunakan oleh sekitar 70-100 rumah.

Baca Juga: Tangki IPAL Biosystem, Tangki Pengolahan Limbah Ramah Lingkungan

Tak hanya itu, Kementerian PUPR juga telah membangun beberapa proyek percontohan infrastruktur pengelolaan air limbah mulai dari skala besar yakni IPAL Regional seperti di Denpasar, Bali, selain itu melaksanakan program Sanitasi Berbasis Masyarakat (Sanimas) di lebih dari seribu kawasan dengan hasil yang cukup baik, dimana air hasil olahannya telah memenuhi baku mutu untuk dibuang ke badan air atau sungai yakni effulent BOD dengan konsentrasi sekitar 50 ppm.

Pengolahan air limbah melalui perpipaan di Jakarta sendiri baru melayani 3,8% warga Jakarta. Saat ini air limbah dari septic tank warga di Jakarta, diangkut menggunakan truk tangki dan diolah di Intalasi Pengolahan Limbah Tinja (IPLT) milik PD PAL Jaya yang ada di Pulogebang dan Bukit Duri.

Selain itu Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di Jakarta baru ada satu yakni di IPAL Waduk Setiabudi yang melayani limbah dari perkantoran, hotel atau bangunan sekitarnya. Untuk mengatasi permasalahan limbah di Jakarta, Kementerian PUPR bekerjasama dengan Japan International Cooperation Agency (JICA) akan membangun Sistem Pengelolaan Air Limbah Terpadu atau Jakarta Sewerage System (JSS) yang tersebar di 15 zona.


Dari 15 zona, pengelolaan limbah terpadu tersebut akan diawali pengembangannya di zona 1 yang berlokasi di Pluit dan zona 6 di Duri Kosambi. Menteri PUPR Basoeki Hadimoeljono mengatakan zona 1 dan zona 6 adalah prioritas dan sudah ada lahan disiapkan untuk pembangunannya yang bekerja sama dengan Pemerintah Daerah DKI Jakarta.

Pembangunan di Zona 1 dibangun diatas lahan seluas 4,901 hektar dengan kapasitas 198.000 m3 limbah per hari. Sedangkan zona 6 di daerah Duri Kosambi, dengan luas sekitar 5,875 Hektar dengan kapasitas 282.000 m3 per hari. "Saat ini untuk pembangunan zona 1 dan zona 6, dalam tahap pembuatan detil desainnya," ujarnya, Selasa (21/3/2017).

Sementara itu Direktur Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman, Ditjen Cipta Karya, Kementerian PUPR Dodi Krispratmadi mengatakan bahwa pembangunan IPAL terpadu di Jakarta sangat berat tantangannya karena disamping biaya sangat mahal, diperlukan ketersediaan lahan yang luas.

Biaya untuk pembangunan zona 1 dibutuhkan dana senilai Rp8,1 triliun dan zona 6 senilai Rp8,7 triliun yang berasal dari pinjaman Jepang. "Biayanya mahal sekali karena tidak menggunakan pompa namun gravitasi sehingga diperlukan penanaman pipa di dalam tanah dengan kedalaman 20-30 meter" kata Dodi.

Selain pembangunan IPAL terpadu pada 15 zona tersebut, Kementerian PUPR juga akan bekerjasama dengan Pemerintah DKI Jakarta untuk pembangunan IPAL komunal melalui program Sanimas. Ditargetkan selesainya IPAL terpadu pada 15 zona tersebut pada tahun 2035, akan mampu melayani pengolahan air limbah Jakarta hingga 90%. "Dengan demikian akan mengurangi pencemaran air tanah dan sungai Jakarta akibat pembuangan air limbah," ucap Dodi.

Resource: Bisnis.com

Baca juga artikel kami yang lain:


Share:

Jumat, 05 Maret 2021

Tangki IPAL BIOSYTEM

Tangki Pengolahaan Limbah Bio System

STP Biosystem adalah sistem pengolahan air limbah secara terpadu untuk mengolah limbah cair domestik dari toilet hingga air bekas mandi. STP dibuat untuk mengolah air sisa-sisa kegiatan domestik agar ramah bagi lingkungan dan tidak merusak ekosistem yang ada.


Saat ini dibeberapa daerah perkotaan air bersih semakin sulit untuk ditemui. Jika hal tersebut tetap dibiarkan maka kemungkinan besar, air bersih akan terus semakin berkurang. Hal ini dikarenakan penggunaan air yang terlalu berlebihan, serta pembuangan limbah cair yang mengotori air sungai dan lain sebagainya.

Untuk mengatasi hal tersebut, kini pemerintah sudah melalui dinas LH sudah mulai melakukan pendekatan kepada masyrakat atau pemilik gedung-gedung untuk menggunakan STP  agar pencemaran air tidak semakin meluas.

Dengan menggunakan STP , anda bisa membantu menjaga kebersihan lingkungan. Mengingat air yang tercemar dapat mendatangkan berbagai macam penyakit diantaranya adalah diare, disentri, penyakit kulit bahkan hepatitis. Dengan pengolahan air limbah ini, anda juga bisa menjaga kebersihan air khususnya air tanah.

Proses Pengolahan Air Limbah pada STP  akan diolah melalui beberapa tahapan proses dengan metode kombinasi biofilter anaerobic-aerobic sehingga air olahan benar-benar sudah layak dibuang dan aman bagi lingkungan. Dengan beberapa tahapan yaitu :

Semua air limbah yang dihasilkan dari kegiatan domestik yaitu air limbah dari kamar mandi, air limbah cucian tangan dari wastafel, seluruhnya dialirkan ke bak pemisah minyak dan lemak. Bak pemisah lemak ini berguna untuk memisahkan antara lemak atau minyak yang bersumber dari kegiatan dapur, serta untuk mengendapkan kotoran pasir, tanah atau senyawa padatan yang tak dapat terurai secara biologis.

Selanjutnya air limpasan dari bak pemisah lemak dialirkan ke bak ekualisasi (Sum Pit) yang berfungsi sebagai bak penampung limbah dan bak kontrol aliran. Air limbah di dalam bak ekualisasi selanjutnya dipompa ke unit STP .

1. Tahap Screening atau Penyaringan Awal Dengan Media Screen

Pada tahap awal, limbah yang akan diolah harus melewati tahap penyaringan. Ini bertujuan untuk menyaring bahan padat yang mengalir melalui air limbah. Dengan demikian, proses pengolahan limbah lebih mudah, efisien dan maksimal. Dalam melakukan proses ini, kita harus tahu tentang ciri-ciri air yang tercemar. Ini membutuhkan alat penyaringan yang tepat. Untuk lapisannya, bisa dibuat berlapis dua sehingga dapat menyaring partikel atau kotoran padat dengan maksimal.

2. Tahap Equalisasi

Pada Tahap kedua ini, air limpasan dari ruang sediment awal atau screen mengalir dan diolah secara aerasi biological dengan hembusan udara dari blower untuk mengurangi beban BOD, COD pada limbah

3. Tahap Anaerobic

Pada tahap ini air limbah memasuki ruang anaerobic yang terdapat media biofilter . Biofilter berfungsi sebagai media penyaring air limbah yang melalui media ini. Sebagai akibatnya, air limbah yang mengandung suspended solids dan bakteri E.coli setelah melalui filter ini akan berkurang konsentrasinya. Efesiensi penyaringan akan sangat besar karena dengan adanya biofilter up flow yakni penyaringan dengan sistem aliran dari bawah ke atas akan mengurangi kecepatan partikel yang terdapat pada air buangan dan partikel yang tidak terbawa aliran ke atas akan mengendapkan di dasar bak filter. Sistem biofilter Up Flow ini sangat sederhana, operasinya mudah dan tanpa memakai bahan kimia serta tanpa membutuhkan energi. Poses ini cocok digunakan untuk mengolah air limbah dengan kapasitas yang tidak terlalu besar.

4. Tahap Aerobic

Di dalam  ruang aerob ini diisi dengan media dari bahan pasltik tipe honeycomb, sambil diaerasi atau dihembus dengan udara sehingga mikro organisme yang ada akan menguraikan zat organik yang ada dalam air limbah serta tumbuh dan menempel pada permukaan media. Dengan demikian air limbah akan kontak dengan mikro-orgainisme yang tersuspensi dalam air maupun yang menempel pada permukaan media yang mana hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi penguraian zat organik, deterjen serta mempercepat proses nitrifikasi, sehingga efisiensi penghilangan ammonia menjadi lebih besar. Proses ini sering di namakan Aerasi Kontak (Contact Aeration). 

5. Tahap Anerobic Secondary (Kedua)

Pada tahap ke 5 ini air kembali disaring dengan biofilter anaerobic untuk memasimalkan dan mereduksi beban air agar kadar BOD,COD, TSS pada air menurun.

6. Tahap Sedimentasi

Sedimentasi adalah suatu unit operasi untuk menghilangkan materi tersuspensi secara gravitasi. Proses sedimentasi pada pengolahan air limbah umumnya untuk menghilangkan padatan tersuspensi sebelum dilakukan proses pengolahan selanjutnya.

7. Klorinasi

Pada tahap ini air limbah akan diolah dengan klorin untuk membunuh kuman berbahaya agar air buangan dari STP  tidak berbahaya bagi lingkungan.

Share:

Tangki IPAL Bulat (Perbedaan dan Fungsinya)

Tangki IPAL Bulat (Perbedaan dan Fungsinya)



Perbedaan STP dan WTP – Pernahkah Anda kebingungan mengenai perbedaan antara Sewage Treatment Plant (STP) dengan Water Treatment Plant (WTP)? Memang benar keduanya merupakan instalasi untuk mengolah limbah, tetapi ada banyak sekali perbedaan signifikan antara keduanya. Oleh karena itu, agar Anda tidak tertukar lagi antara kedua sistem pengolahan limbah ini, saatnya mengenal perbedaan STP dan WTP, mulai dari pengertian, fungsinya, hingga cara kerja keduanya. Berikut penjelasan selengkapnya

Perbedaan STP dan WTP Dilihat dari Pengertiannya

Hal pertama yang perlu Anda pahami mengenai perbedaan STP dan WTP adalah pengertiannya yang berbeda satu sama lain. Sewage Treatment Plant adalah instalasi pengolahan limbah cair yang diperuntukkan bagi limbah rumah tangga seperti kotoran, air bekas mencuci piring atau pakaian, dan juga air kotor yang berasal dari dapur dan kamar mandi. Sementara itu, Water Treatment Plant adalah instalasi pengolahan air untuk mendapatkan air yang sesuai dengan standar baku mutu dan memisahkannya dari kontaminan agar lebih bersih dan aman untuk dikonsumsi.

Jika dilihat dari pengertian keduanya, maka sudah jelas perbedaaan STP dan WTP adalah pada perlakuan terhadap limbah cair yang diolah. Pada umumnya, pengolahan pada WTP memerlukan komponen yang lebih rumit, karena instalasi ini digunakan untuk menghasilkan air dengan kualitas baik dan layak untuk dikonsumsi manusia. 

Perbedaan STP dan WTP dari Fungsinya

Jika dilihat dari fungsinya, maka perbedaan STP dan WTP juga cukup berbeda. Sistem STP memiliki fungsi untuk menghilangkan kontaminan yang terbawa limbah rumah tangga berupa grey water dan black water agar tidak mencemari lingkungan ketika dibuang ke wilayah perairan sekitar. 

Sementara itu, sistem WTP memiliki perlakuan yang sedikit berbeda, karena berfungsi untuk menyuplai air yang berkualitas untuk kebutuhan industri dengan cara mengolah air dari sumber dengan kualitas yang kurang baik menjadi cukup baik digunakan untuk berbagai kebutuhan seperti konsumsi atau produksi.

Perbedaan STP dan WTP Dilihat dari Cara Kerjanya

Setelah mengenal perbedaan STP dan WTP dari pengertian dan fungsinya, Anda juga perlu mengetahui perbedaan STP dan WTP jika dilihat dari cara kerjanya. Dengan begitu, Anda tidak salah memilih ketika akan memasang instalasi pengolahan limbah untuk perusahaan atau juga pemukiman yang Anda kelola.

Cara kerja dari STP melibatkan dua proses pengolahan limbah, yaitu limbah yang berasal dari sisa cucian atau deterjen (grey water) dan kotoran manusia (black water), dengan proses sebagai berikut:

Pengolahan limbah grey water, memanfaatkan Sistem Pengolahan Air Limbah (SPAL) yang dilengkapi bak pengumpul dan tangki resapan. Untuk dapat melakukan pengolahan grey water, nantinya limbah akan dialirkan menuju bak pengumpul yang memiliki ruang yang disekat dengan sebuah kassa, yang berfungsi untuk menyaring dan mengendapkan zat yang terbawa, seperti sampah, minyak, dan pasir. Setelah selesai, air dialirkan menuju tangki resapan yang dilengkapi dengan arang dan batu koral untuk menyaring air agar lebih bersih dan aman untuk lingkungan.

Pengolahan limbah black water, memerlukan sistem yang lebih rumit dan membutuhkan septic tank sebagai tangki endapan yang dilengkapi bakteri yang berfungsi untuk mengurai kotoran agar kandungan zat patogen yang ada di dalamnya dapat dihilangkan. Hasil akhirnya adalah lumpur tinja yang sudah lebih aman untuk dibuang ke saluran pembuangan.
Sementara itu, cara kerja WTP sendiri melibatkan beberapa proses yang lebih rumit dari STP. Perbedaan STP dan WTP dari proses ini yang penting Anda ketahui, yaitu:

Koagulasi, merupakan proses untuk destabilisasi partikel koloid yang terkandung di dalam air. Tujuan utama dari proses ini adalah untuk memisahkan air dari partikel pengotor yang ikut larut seperti pasir, minyak, dan lainnya. Proses ini dapat dilakukan dengan metode fisika atau juga kimia.
Flokulasi, adalah proses untuk membentuk dan juga memperbesar flok atau pengotor yang terendap agar lebih mudah dipisahkan. Tahap ini biasanya melibatkan senyawa kimia untuk meningkatkan efisiensi.

Sedimentasi, berfungsi untuk mengendapkan partikel koloid yang sudah melalui dua proses sebelumnya yang kini sudah lebih besar masa jenisnya dibandingkan air. Ketiga proses ini biasanya juga dapat digabungkan menjadi satu, melalui proses aselator.

Filtrasi, merupakan proses penyaringan dengan memanfaatkan membran atau media lain seperti pasir atau batuan. Ada beberapa proses filtrasi yang umumnya diketahui, yaitu Reverse Osmosis (RO), Multi Media Filter, Ultra Filtration (UF), Nano Filtration (NF), dan Micro Filtration (MF).
Desinfeksi, yaitu proses penambahan zat kimia untuk memastikan zat patogen yang masih terbawa dapat dimatikan. Proses ini biasanya melibatkan metode ozonisasi, penambahan klor, penyinaran UV, dan metode lainnya untuk membunuh zat berbahaya.

Reservoir, merupakan proses akhir untuk menampung air bersih sebelum didistribusikan kembali.
Itulah tadi perbedaan STP dan WTP dilihat dari pengertian, fungsi, dan juga cara kerjanya. Setelah mengenal perbedaan STP dan WTP di atas, kini Anda sudah bisa menentukan manakah sistem pengolahan limbah cair yang dibutuhkan. 

Jika Anda tertartik untuk memasangnya, PT. Royal Cipta Abadi Utama bisa menjadi pilihan yang tepat untuk membantu Anda, dengan biaya yang kompetitif dan dukungan pilihan pembayaran dengan sistem pay for performance, tentunya kualitas yang yang dihasilkan sebanding dengan investasi yang dikeluarkan. Sekarang pilihan di tangan Anda, siap menghubungi kami sekarang

Share:

Tangki IPAL

 


Share:

Definition List

Unordered List

Support